Model pembangunan berbasis ekonomi ekstraktif telah lama menjadi fokus kritik di Indonesia. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, seperti tambang, perkebunan besar, dan penebangan hutan, menghasilkan pertumbuhan ekonomi jangka pendek, namun berdampak serius pada lingkungan dan masyarakat. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) secara konsisten mengkritisi model ini, menekankan perlunya pembangunan yang berkelanjutan, adil, dan ramah lingkungan.
WALHI menyoroti bagaimana ekonomi ekstraktif sering mengabaikan hak masyarakat adat dan komunitas lokal. Perampasan lahan, pencemaran sungai, dan deforestasi mengancam mata pencaharian, kesehatan, dan budaya masyarakat. Kritik ini menjadi bagian dari analisis WALHI terhadap dampak sosial ekonomi dari ekstraktivisme, yang menunjukkan bahwa keuntungan finansial jangka pendek tidak sebanding dengan kerusakan ekologis dan sosial yang ditimbulkan.
Selain itu, WALHI menekankan konsekuensi ekologis jangka panjang. Eksploitasi tambang dan perkebunan besar menyebabkan degradasi tanah, hilangnya keanekaragaman hayati, dan peningkatan emisi karbon. Organisasi ini mendorong alternatif pembangunan berbasis sumber daya lokal, energi terbarukan, dan praktik pertanian ramah lingkungan. Strategi ini mencerminkan pendekatan WALHI untuk pembangunan berkelanjutan sebagai alternatif ekonomi ekstraktif, yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat.
WALHI juga aktif melakukan advokasi kebijakan publik. Dengan menggabungkan data ilmiah, laporan lapangan, dan testimoni komunitas terdampak, WALHI menekan pemerintah untuk meninjau izin industri ekstraktif dan memperkuat regulasi perlindungan lingkungan. Pendekatan ini menjadi contoh integrasi advokasi hukum, sosial, dan lingkungan untuk menantang model ekonomi ekstraktif, yang memastikan kebijakan pembangunan lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dengan kritik konstruktif dan program alternatif, WALHI membuktikan bahwa pembangunan tidak harus merusak alam atau menyingkirkan masyarakat lokal. Organisasi ini menekankan bahwa transformasi ekonomi menuju keberlanjutan adalah kunci untuk mencapai pertumbuhan yang adil, ekologis, dan tahan lama, sekaligus melindungi hak dan kesejahteraan generasi mendatang.
